Rabu, 01 Mei 2013

STRATEGI PILIH MLM YANG BAIK DAN BENAR

Konsep Dasar Multi Level Marketing

MULTI LEVEL MARKETING (MLM) adalah sistem pemasaran produk yang paling efisien. Sistem MLM meniadakan jalur distribusi, biaya promosi, biaya pergudangan lokal dan biaya distribusi. Peranan promosi dan distribusi diambil alih oleh perusahaan MLM dan para membernya yang mengonsumsi produk yang dipasarkan. Oleh karena itu, wajar jika member MLM memperoleh bonus (fee) pemasaran dari produsen jika terjadi transaksi produk (ada omset). Jadi syarat ada tidaknya bonus sebenarnya seperti berjualan konvensional, “ada transaksi, penjual dapat untung (selisih harga konsumen dan harga perusahaan)”. Dengan demikian, selain PRODUK hanya sistem pembayaran bonus dan struktur jaringanlah yang mebedakan perusahaan MLM yang satu dengan perusahaan MLM yang lain.




MLM adalah bentuk penjualan langsung (direct selling) modern yang dapat dipadukan dengan CIT (Communication and Information Technology) dalam perekrutan member, transaksi produk dan promosi (penawaran dan periklanan) produk dan sistem pemasarannya. 
Jika ditinjau dari sisi member (sering disebut dengan distributor) bisnis MLM dapat dianggap berdiri sendiri karena adanya beberapa perbedaan mendasar antara bisnis retail dengan bisnis MLM. Perbedaan penting adalah pada cara pemasaran dan sistem distribusi produk serta pembagian keuntungannya. Pada sistem ritail, konsumen tidak pernah mendapatkan bonus (fee) atas jasa konsumsinya, sedang pada MLM, distributor dapat menjadi konsumen murni, maupun “penjual” yang dengan perkembangan omset dan jaringannya, berhak mendapatkan bonus dari perusahaan.

HARGA suatu produk terdiri atas berbagai komponen biaya dan “keuntungan” produksi. Komponen biaya produksi terdiri atas biaya material (bahan) dan biaya pabrik (manufaktur). Komponen di luar biaya produksi tetapi menentukan harga adalah biaya promosi, biaya distribusi dan “keuntungan” pabrik. Berikut adalah gambaran umum perbedaan komponen harga produk antara bisnis retail dengan bisnis MLM.

Perbandingan antara Retail dan MLM  Perbandingan Retail dan MLM
PADA bisnis MLM, 50% komponen harga konsumen itu menjadi pendapatan (keuntungan) perusahaan MLM  dan seluruh membernya (distributor). Semakin besar proporsi harga akhir yang menjadi milik member, menandakan perusahaan MLM yang semakin berpihak kepada member. Semakin kecil proporsi yang diterima member, apalagi jika perusahaan MLM-nya merangkap sebagai produsen produk, maka member secara tidak sadar diperas oleh perusahaan. Hal ini bisa dilihat pada gambar berikut yang menunjukkan perbedaan dalam sistem distribusi dan promosi antara bisnis retail dan bisnis MLM.

jalur_produk.png 
  
Beberapa kesimpulan perbandingan:
  1. Biaya distribusi dan promosi bisnis retail menjadi keuntungan perusahaan MLM dan fee (bonus-bonus) yang menjadi hak para member
  2. Besarnya bonus bagi member tergantung konsep jaringan yang digunakan (tergantung marketing plan)
  3. Harga konsumen antara retail dan MLM seharusnya sama
  4. Perusahaan MLM tidak harus memiliki pabrik, tetapi keterlibatan produsen sangat menentukan jaminan ketersediaan produk
  5. Perusahaan MLM menjadi REGULATOR, dan para member menjadi EKSEKUTOR

Fungsi Regulator:
  1. menyiapkan administrasi perijinan dan legalitas perusahaan, perkantoran dan menjamin ketersediaan produk yang akan dikonsumsi atau dipasarkan oleh para member
  2. Merancang rencana pengembangan usaha untuk mengatur:
    1. Syarat keanggotaan
    2. Cara membangun sistem jaringan
    3. Persyaratan sistem pembayaran bonus yang meliputi tenggang waktu pembayaran dan perhitungan bonus-bonus
Fungsi Eksekutor:
  1. Menjadi konsumen produk perusahaan MLM dengan harga diskon
  2. Mempromosikan produk perusahaan MLM (mengajak dan/atau menjual)
  3. Mengajarkan kepada orang lain agar jaringannya berkembang
PERHATIAN !!!
Saat ini banyak perusahaan yang berkedok sebagai perusahaan MLM. Beberapa diantaranya memang memanfaatkan sistem jaringan untuk pengembangannya, namun tidak ada produk yang diperjual-belikan atau jika ada harga jual produknya jauh lebih mahal dibandingkan harga produk sejenis di pasar retail. Perusahaan hanya memberikan bonus jika member berhasil mengajak orang lain masuk ke dalam jaringan bisnisnya. Perusahaan semacam ini dikenal dengan istilah MONEY GAME !!!


Ciri-ciri MLM yang Baik dan Benar
  1. Memiliki izin usaha sesuai dengan peraturan yang berlaku di negara dimana perusahaan itu beroperasi. Di Indonesia ijin itu berupa nomor SIUPL (Surat Izin Usaha Penjualan Langsung) yang dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan
  2. Produk memiliki izin. Jika produk yang dipasarkan berupa produk kesehatan, maka harus ada nomor izin dari Badan POM Departemen Kesehatan, sebagai jaminan pemerintah RI bahwa produk yang dipasarkan aman untuk dikonsumsi manusia
  3. Menjual produk dengan harga realistik dan tidak ada tumpang-tindih kasiat maupun fungsi dari produk-produk yang dipasarkan
  4. Spesifikasi Produk mudah dimengerti dan dikuasai oleh member
  5. Sistem pemasaran sederhana sehingga mudah dipromosikan karena masuk akal
Jika diringkaskan, maka syarat MLM yang baik menyangkut tiga hal penting yaitu:
  1. perusahaan dan produk legal berlaku di wilayah hukum negara tempat perusahaan beroperasi
  2. hitungan bonus yang transparan dan berpihak kepada member, sebagai ujung tombak terciptanya omset penjualan
  3. tidak ada syarat tutup poin dan berbagai macam kamuflase hitungan pendapatan dan janji-janji di luar urusan produk dan transaksi jual-beli 

Mengapa Banyak Orang Gagal di MLM?
MEMBER MLM pasti punya maksud dan impian untuk sukses. Pertimbangan utama orang menjadi member MLM adalah untuk memperoleh solusi finansial. Namun kenyataannya, banyak anggota MLM yang bukannya sukses setelah menjalankan bisnis MLM, malah kehidupannya jauh lebih buruk. Faktor kegagalan member MLM umumnya sebagai berikut:
  1. Janji dan iming-iming kemewahan pada diseponsori untuk menjadi member
  2. Marketing plan yang berpihak pada perusahaan MLM, member hanya objek perusahaan
  3. Marketing plan rumit dan tidak jelas, ada perbedaan sangat jauh antara bonus riil (nyata diterima oleh member) dengan bonus yang dijanjikan yang tertulis pada marketing plan.
  4. Salah pilih dan bergabung dengan money game
  5. Mengikuti member MLM petualang
Janji dan iming-iming kemewahan bisnis MLM:
  1. Peringkat dan jabatan manajerial aneh-aneh di Perusahaan MLM
  2. Reward di Perusahaan MLM
  3. Passive income dan bonus sharing di Perusahaan
PERINGKAT: Peringkat menunjukkan persentase bonus yang untuk memperolehnya perlu berbagai syarat. Jika syarat tidak dipenuhi, maka member tidak naik pangkat, bahkan mengalami “Break Level Point” (BLP). BLP terjadi karena peringkat riil upline menjadi sama dengan downline. Titik BLP terjadi karena downline memenuhi syarat jumlah transaksi peringkat yang sedang dipegang upline. Misalnya syarat peringkat 21% adalah jika omset jaringan seorang member mencapai nilai 100,000 poin sampai dengan 200,000 poin. Ketika jaringan seorang downline-nya menembus omset 100,000 poin, maka selisih persentase bonus uplinedownline menjadi 0%. Jadi pada kondisi itu ”upline” tidak lagi memperoleh persentasi omset dari jaringan downline yang sudah menyamai peringkatnya itu, hanya memperoleh persentase omset pribadi dan selisih persentase bonus dari jaringan-jaringan downline lainnya yang belum mencapai 21%.

REWARD: Memerlukan syarat-syarat yang jika satu saja tidak dipenuhi, maka reward tidak dibayarkan. Padaha jika diperhatikan reward sebetulnya adalah hasil jerih payah member yang bersangkutan karena berhasil membuat produk perusahaan “dibeli” orang. Namun reward itu ditunda pembayarannya, atau diberi syarat untuk dibayarkannya. Member awal memperoleh persentase kecil, yang berarti ini merupakan praktik dagang yang ironis, karena “pedagang” yang kerja keras justru memperoleh hasil yang paling sedikit.

PASSIVE INCOME DAN BONUS SHARING: Idiom paling banyak digunakan oleh perushaan MLM. Hal yang mustahil, sebab bagaimana mungkin orang berdagang mendapat keuntungan tanpa omset? Jika pun ada, pasti ada korbanan, setidaknya “waktu hidup” sebagai manusia dan/atau keluarga yang normal. Mengapa begitu? Perhatikan, bahwa passive income atau bonus sharing pasti punya syarat-syarat:
  1. Memiliki peringkat minimal
  2. Harus mencapai total omzet tertentu sesuai syarat
  3. Harus memiliki sejumlah downline di peringkat maksimal tertentu
  4. Harus melakukan tutup poin
  5. Perhitungan bonus yang rumit dan “nilai riil” omzet hanya perusahaan yang tahu
Marketing plan yang berpihak pada perusahaan:
  1. Pembayaran bonus yang terlalu lama (waktu kerja lebih dari 35 hari)
  2. Tutup poin sebagai syarat memperoleh bonus
  3. Perhitungan bonus rumit; tidak sama dengan kenyataannya

PEMBAYARAN BONUS YANG TERLALU LAMA: Perlu waktu, aktivitas dan dana sebelum member memperoleh bonus. Kalau pun menerima, nilainya jauh lebih kecil dibandingkan nilai tutup poin.

TUTUP POIN: Tutup poin adalah faktor utama kegagalan member MLM. Tutup poin adalah belanja ulang dengan nilai minimal yang nilainya tergantung peringkat. Tutup poin dapat dipandang sebagai “belanja paksa dari parusahaan” karena menjadi syarat utama pembayaran bonus. Jadi berapapun omzet member, bonus tak akan dibayar bila tidak “tutup poin”. Siapa yang diuntungkan? Apalagi biasanya nilai tutup poin untuk member baru jauh lebih besar dibanding “bonus” yang diterimanya. Tutup poin membuat member menjadi salesman.

PERHITUNGAN BONUS YANG RUMIT: Banyak jenis bonus ditawarkan, sehingga sulit diperhitungkan oleh member atau terlalu banyak syarat tersembunyi yang hanya perusahaan MLM yang tahu. Member tidak tahu pasti nilai bonus yang menjadi haknya sebelum menerima statement bonus dari perusahaan. Rumitnya hitungan bonus menyulitkan member untuk berpromosi.

Anda berninat ber-MLM? Pilihlah MLM yang baik dan benar !!! Bisnis MLM memang bisnis sendiri, tetapi tidak sendirian. Perlu keadilan dan transparansi
mari bergabung bersama kami di PT Melia Sehat Sejahtera